Sabtu, 20 Desember 2008

Laporan Pendahuluan Manajemen Stress


LAPORAN PENDAHULUAN

Masalah/ Diagnosa Utama : Meningkatkan kemampuan untuk menghindari situasi stress.

Manajemen stress adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi; orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memberi tuntutan yang berlebihan.

Manajemen stress ini mempunyai 3 diagnosa keperawatan yaitu :
Meningkatkan kemampuan untuk menghindari situasi stress
Memulai praktik tehnik manajemen stress
Meningkatkan kemampuan mempertahankan reduksi stress melalui penggunaan konsisten tehnik manajemen stress

Proses terjadinya masalah :
Dalam kehidupan stress sering terjadi, namun ada orang tidak menyadarinya karena kadarnya masih ringan. Pemicu stress bisa berasal dari Internal maupun dari eksternal. Internal terkait dengan kepribadian, kebutuhan, nilai, tujuan,umur dan kondisi kesehatan kita. Sementara dari sisi eksternal, bersumber pada lingkungan keluarga, masyarakat, tempat kerja maupun berbagai sumber lain.

Stress yang tidak dapat dikurangi atau dikelola dengan baik akan menimbulkan suatu resiko atau bahkan gangguan pada kesehatan jiwa seseorang seperti timbulnya frustrasi dan ketidakberdayaan.
Pada individu yang sehat stress akan dapat dikelola dengan baik hal ini dapat dilihat dengan kemampuannya menguraikan sumber-sumber stress dan dapat menyebutkan cara untuk menghindari stress tersebut seperti: Goliszek (2005) menyatakan bahwa usaha untuk memecahkan kebiasaan stress sehingga kualitas hidup menjadi lebih baik dengan; (1) mempelajari apa itu stress, (2) mengenali gejala stres yang terjadi dalam diri, (3) mengubah pola perilaku dan (4)memanfaatkan serangkaian teknik dan relaksasi dari manajemen stres yang cepat dan sederhana.

Mengenali tanda dan gejala bila mengalami stress baik dari fisik maupun psikologi seperti : Dr. Hans Selye membagi respon terhadap stress dalam tiga tingkatan yaitu alarm (alarm), perlawanan (resitance) dan peredaan (exhaustation). Pertama, alarm merupakan peringatan dini atas terjadinya stress yang ditandai dengan reaksi tubuh terhadap adanya tekanan atau stress. Gejala umum yang terjadi adalah otot menegang, tekanan darah meningkat, denyut jantung meningkat dan sebagainya. Tahap kedua, munculnya perlawanan yang ditandai dengan kegelisahan, kelesuan dan lain sebagainya yang menandakan seseorang sedang melakukan perlawanan terhadap stress. Hasil dari perlawanan tersebut dapat berupa kecelakaan, keputusan yang ceroboh dan kondisi badan yang sakit-sakitan. Akhirnya, berujung pada tahap peredaan yang merupakan runtuhnya perlawanan. Pada tahap ini muncul berbagai penyakit seperti darah tinggi, kencing manis, jantung koroner dan sebagainya.

Diagnosa keperawatan : Meningkatkan kemampuan untuk menghindari situasi stress.
Rencana tindakan Keperawatan :
Tujuan : Klien mampu meningkatkan kemampuan dalam menghindari situasi stress.

Intervensi :
Perkuat prilaku mengelola stres
Diskusikan cara mengurangi stress bila hal tersebut tidak dapat dihindari.

Jumat, 12 Desember 2008

"Kekerasan Dalam Pacaran"

Kekerasan dalam Pacaran pada Remaja


Pendahuluan
Di zaman sekarang banyak sekali terjadi tindakan kekerasan.Hal ini mungkin dipacu oleh keadaan ekonomi yang semakin memburuk, pemahaman terhadap nilai-nilai moral yang kurang dan banyaknya tayangan-tayangan yang mempertontonkan berbagai bentuk tindakan kekerasan secara jelas. Tindakan kekerasan dapat terjadi di berbagai tempat dan situasi seperti di dalam rumah tangga yang dikenal dengan domestic violence, kekerasan yang terjadi di sekolah-sekolah seperti tawuran yang dikenal dengan school violence dan kekerasan yang terjadi pada remaja terutama pada saat sedang pacaran yang disebut dengan kekerasan dalam pacaran (KDP)/ dating violence.

Banyak orang yang peduli dengan kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga namun masih sedikit yang peduli dengan kekerasan dalam pacaran. Orang berpandangan bahwa pada saat berpacaran tidak mungkin terjadi kekerasan karena orang yang berpacaran akan saling menunjukkan perilaku yang baik serta kata-kata yang manis dan indah.Lazimnya, orang berpacaran karena adanya perasaan saling menyukai dan saling menyayangi diantara keduanya. Hal ini juga diperberat oleh kurangnya data dan informasi yang diperoleh tentang kasus kekerasan ini.

Kekerasan dalam pacaran secara garis besar dapat berupa kekerasan fisik, seksual, ekonomi, dan emosional. Kekerasan fisik termasuk didalamnya tindakan memukul, tendangan, cubitan, dorongan dan pemukulan yang menggunakan objek lainnya termasuk kekerasan ekonomi. Kekerasan ekonomi …………. Kekerasan emosional seperti panggilan nama yang tidak disukai, godaan atau gangguan, kecemburuan yang berlebihan, penghinaan baik secara pribadi ataupun di depan umum dan pebuatan lainnya yang menyakitkan. Kekerasan seksual dapat berupa perkosaan dan menyentuh bagian-bagian tubuh yang bertentangan atau tidak diinginkan pasangan .

Tidak banyak tersedia data tentang insiden terjadinya kekerasan dalam pacaranumumnya maupun kekerasan dalam pacaran pada remaja khususnya. Berdasarkan data dari PKBI Yokyakarta mendapatkan bahwa dari bulan Januari sampai Juni 2001 saja, terdapat 47 kasus KDP , 57% diantaranya mengalami kekerasan emosional, 20% mengalami kekerasan seksual, 15% mengalami kekerasan fisik, dan 8% lainnya merupakan kasus kekerasan ekonomi.Kekerasan ini tidak hanya dialami oleh perempuan ( remaja putri ) tetapi remaja putra pun mengalaminya.

Dalam sebuah diskusi mengenai KDP, para remaja putri melaporkan bahwa dalam 70% waktu pacaran mereka, pasangan melakukan pelecehan. Sedangkan remaja putra mengakui bahwa pasangan perempuan mereka melakukan pelecehan sebanyak 27% dari waktu pacaran . Dalam studi lainnya ditemukan 68% laki-laki dan 33% perempuan melaporkan telah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya (Chase, Treboux, O’ Leary,dan strassberg, 1998). Data yang tersedia hanyalah kasus-kasus yang dilaporkan atau tanpa sengaja terbukti dan diketahui sehinggga yang tampak berupa fenomena gunung es (Ice Berg), dimana kasus sebenarnya jauh lebih besar lagi namun tidak muncul kepermukaan yang disebabkan oleh banyak hal.

Banyak sekali akibat yang ditimbulkan oleh kekerasan dalam pacaran terutama akibat kekerasan seksual. KDP dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan remaja pada saat dewasanya dan juga mempengaruhi perkembangan anggota keluarga lainnya.
Pada korban kekerasan yang selama pacaran sudah melakukan hubungan seksual kondisinya akan lebih memburuk lagi. Keperawanan korban menjadi “Sandera” tersendiri karena konstruksi sosial menghendaki laki-laki mendapatkan seorang yang perawan sebagai pasangan. Akibatnya perempuan rela menjadi korban sepanjang si laki-laki tidak memutuskan hubungan. Kondisi demikian diperparah dengan minimnya perhatian dan pemahaman keluarga dan institusi pendidikan terhadap masalah ini. Remaja seolah dibiarkan sendirian dalam menghadapi persoalan kekerasan yang dihadapi pada saat mereka sibuk mencari jati diri.

Disamping itu, adanya standar ganda dalam masyarakat, menjadikan korban kekerasan dalam pacaran sulit keluar dari kemelut yang mereka alami. Kadang-kadang masyarakat mengecam tindak kekerasan dalam pacaran, namun pada kasus-kasus tertentu tidak jarang pula masyarakatmengharapkan terjadinya kekerasan. Seperti halnya korban yang biasanya menyalahkan diri, masyarakat pun melihat kekerasan yang terjadi sebagai hukuman bagi korban karena keluar dari ajaran agama dan norma.
Ketidak pahaman korban serta masyarakat terhadap apa sebenarnya yang terjadi menjadikan masalah semakin larut. Korban semakin terpuruk dalam lingkar kekerasan tanpa tahu bagaimana keluar dari kekerasan yang dialami.
Walaupun data yang terkumpul belum menunjukkan urgensi dilakukannya penanganan KDP pada remaja, namun pengetahuan untuk mengenal faktor-faktor resiko dan tindakan pencegahan terjadinya KDP sudah dirasakan perlu untuk diketahui oleh remaja, keluarga, masyarakat dan praktisi yang berkaitan dengan pengawasan perkembangan remaja. Diharapkan kejadian kasus KDP terutama pada remaja tidak berlanjut dan tidak terjadi lagi kasus baru. Dengan demikian diharapkan tidak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan remaja kelak.

Kekerasan Dalam Pacaran dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
Pada beberapa dekade Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) muncul sebagai masalah kesehatan sosial dan umum yang signifikan. Banyak riset yang dilakukan untuk mengetahui tentang KDP, ada yang berfokus pada pasangan dewasa dengan sampelnya adalah mahasiswa dan akhir-akhir ini perhatian mengarah pada kekerasan dalam pacaran dengan sampel siswa sekolah menengah atas (Foshee, 1996; James, West, Desters, & Armijo 2000; kreiter et al., 1999)

KDP merupakan salah satu bentuk dari tindakan kekerasan terhadap perempuan. Sedangkan definisi terhadap kekerasan perempuan itu sendiri, dijelaskan melalui Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan tahun 1994 pasal 1, adalah “setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi”. Namun demikian, walaupun KDP termasuk dalam kekerasan terhadap perempuan, sebenarnya kekerasan ini tidak hanya terjadi pada perempuan atau remaja putrid saja tapi remaja putra pun mengalami yang dilakukan oleh pacar atau pasanganya.
Remaja adalah suatu masa di mana anak-anak mulai menggunakan kemampuan perkembangannya yang baru dalam berpikir logis untuk melihat dirinya sendiri apakah segala sesuatu yang telah mereka dapatkan dalam kehidupannya selama ini dari orang dewasa terutama orang tua benar-benar nyata adanya. Ini menjelaskan mengapa banyak anak muda yang idealis dan cenderung menyatakan banyak uatu yang terjadi tidak dengan cara yang hal yang di dunia ini dianggap bodoh. Mereka berpikir bahwa seharusnya sesuatu terjadi tidak seperti cara yang mereka lihat tersebut. Mereka berpandangan bahwa segala sesuatunya akan menjadi lebih baik jika mereka melibatkan diri didalamnya.Terkadang mereka berusaha untuk membuat perubahan-perubahan sosial tetapi secara perlahan mereka tenggelam ke dalam kenyataan, kearoganan manusia dan melawan pertempuran dunia yang semakin sulit sehingga sulit bagi mereka untuk berjuang.

KDP yang menimpa remaja merupakan masalah yang signifikan karena terjadi pada tahapan kehidupan dimana hubungan romantis di mulai dan pola interaksi dipelajari dan nantinya akan dilanjutkan serta di bawa pada saat dewasa (Werkerle& Wolfe, 1999). KDP yang dialami remaja mulai dari rentang emosional dan kekerasan verbal sampai pemerkosaan dan pembunuhan dan hal ini dialami secara berkelanjutan menjadi kekerasan dalam rumah tangga pada saat dewasanya. (Sousa,1999).
Remaja adalah orang yang paling beresiko terhadap terjadinya KDP. KDP pada remaja dapat berupa kekerasan fisik, ekonomi, seksual dan emosional. Kekerasan fisik termasuk didalamnya tindakan memukul, tendangan, cubitan, dorongan dan pemukulan yang menggunakan objek lainnya termasuk kekerasan ekonomi. Kekerasan ekonomi ………….. Kekerasan emosional seperti panggilan nama yang tidak disukai, godaan atau gangguan, kecemburuan yang berlebihan, penghinaan baik secara pribadi ataupun di depan umum dan pebuatan lainnya yang menyakitkan. Kekerasan seksual dapat berupa perkosaan dan menyentuh bagian –bagian tubuh yang bertentangan atau tidak diinginkan pasangan .

Kekerasan fisik dapat menimbulkan kerusakan organ, kecacatan dan bahkan kematian. Kekerasan ekonomi dapat berakibat ……………… Kekerasan emosional cendrung menimbulkan keinginan untuk bunuh diri dan akibat kekerasan seksual dapat dilihat dampaknya bagi kesehatan fisik dan psikologis, anak perempuan yang diperkosa dapat menderita masalah kesehatan jangka panjang seperti nyeri panggul klinis, sakit kepala, asma, atau sering mengalami sindroma perut. Akibat psikologis berupa depresi, rasa takut dan khawatir, kurang percaya diri dan bahkan mengalami disfungsi seksual. Kebingungan akan dasar dari kekerasan juga timbul karena tertutupnya data tentang pelaku dan korban. Hal ini dipaparkan untuk KDP, juga sebagai pelaku dan korban jarang ada secara bersamaan (Hotaling & Sugarman, 1999).

Penting diketahui bahwa ada masalah yang mendasar dalam pernyataan tentang jenis kelamin mempengaruhi kekerasan dalam berhubungan ternyata kekerasan fisik yang terbesardapat di akibatkan oleh laki-laki karena laki-laki biasanya lebih besar badanbya dan lebih kuat tenaganya. Jika dibandingkan laki-laki dan perempuan maka perempuan lebih sering menderita kesakitan karena terluka dan membutuhkan pengobatan akibat dari kekerasan (Makepeace, 1987). Molidor dan Tolman (1998) menemukan bahwa remaja laki-laki lebih sedikit merasakan kecelakaan dari kekerasan dalam pacaran baik fisik maupun psikologis ataupun kerusakan lainnya.

Penelitian O’ Keefe dan Treister (1998) menemukan bahwa laki-laki dan perempuan merasa sebagai korban KDP sangat berbeda. Dimana korban perempuan indikasinya adalah “ Kesakitan ecara emosional” dan “ Ketakutan” sebagai 2 efek utama bagi mereka sedangkan laki-laki indikasinya berfikir bahwa itu adalah hal yang “Lucu” dan “Kemarahan“. Lebih jauh lagi, jenis kelamin juga merupakan motif untuk terjadinya kekerasan dalam pacaran. O’Keefe (1997) melaporkan bahwa kemarahan merupakan frekuensi terbesar dari motif terjadinya KDP pada laki-laki dan perempuan, biasanya pada perempuan merupakan pertahanan diri dan pada laki-laki adalah keinginan untuk mengontrol pasangan mereka.

Faktor resiko terjadinya KDP ini dapat di kelompokkan dalam beberapa kategori yaitu: karakteristik demografi, pengalaman sebelumnya/terpapar pada kekerasan sebelumnya, sikap terhadap kekerasan, kelompok yang berpengaruh, faktor personal atau intrapersonal, masalah perilaku lainnya dan faktor-faktor hubungan. Dari pengelompokan diatas dapat dilihat satu persatu :

Karakteristik Demografi
KDP yang terjadi pada remaja dipengaruhi oleh demografi seperti strata ekonomi, ras atau etnik, dan struktur keluarga. Bila ditinjau dari strata ekonomi maka KDP tertinggi terjadi pada sosial ekonomi strata rendah (Makepeace, 1984); bagaimanapun tidak ada pola yang konsisten ditemukan. Beberapa kejadian KDP juga ditemukan pada perbedaan ras atau etnik. Angka pelaku kekerasan lebih tinggi ditemukan pada suku bangsa afrika yang tinggal di amerika dan lebih rendah pada suku bangsa asia dan latin (Makepeace, 1987; O’Keeffe et al., 1986; O’Keefe , 1997).
Peneliti lain juga melaporkan bahwa tidak ada perbedaan ras dalam angka kejadian KDP. Malik and colleague (1997) menemukan bahwa struktur keluarga juga ada hubungannya dg kejadian KDP untuk anak perempuan, namun penelitian yang dilakukan oleh O’Keeffe et al., (1986) menemukan bahwa struktur keluarga tidak berhubungan dengan pelaku atau korban dari KDP.

Pengalaman sebelumnya / terpapar dg kekerasan sebelumnya
Suatu hipotesa terhadap sebuah prediksi hubungan antara keluarga yang merupakan asal dari kekerasan dan timbulnya KDP telah menimbulkan hasil yang tidak konsisten dg beberapa penelitian yang mengindikasikan bahwa remaja, biasanya laki-laki, yang merupakan saksi kekerasan dari kedua orang tuanya beresiko tinggi untuk timbulnya KDP (DeMaris, 1990; Foo & Margolin, 1995; O’Keefe,1997). Hubungan antara pengalaman kekerasan orang tua terhadap anak dan timbulnya KDP sama dengan penelitian yang mengindikasikan bahwa pukulan yang dilakukan orang tua berhubungan dengan terjadinya KDP nantinya. Adanya dorongan yang konsisten dalam literature yang menyatakan hubungan yang positif antara KDP dengan penyerangan melawan kelompok (Riggs & O’Leary, 1989) karena ini, remaja yang biasanya sering menunjukkan perlawanan atau menggunakan penyerangan fisik untuk melawan kelompok juga akan menyamainya untuk menggunakan penyerangan dengan teman kencan atau pasangannya.
Makanya tidak mengheran bahwa hubungan yang positif telah ditemukan antara penggunaan penyerangan sebelumnya melawan teman kencan dg timbulnya penyerangan saat pacaran, tingkah laku ini dapat menetap sepanjang waktu terjadinya hubungan (Cano,Avery Leaf, Cascardi, & O’Leary,1998)

Sikap terhadap kekerasan
Faktor yang terkuat dihubungkan dengan penyebab kekerasan terhadap teman kencan adalah kepercayaan bahwa diterimanya penggunaan prilaku kekerasan (Malik et al., 1997; O’keefe, 1997; Tontodonato & Crew, 1992). Lebih jauh laki-laki yang memulai kekerasan terhadap pasangannya lebih mengharapkan akibat yang positif dimana laki-laki yang tidak melakukan prilaku kekerasan lebih menyukai untuk tidak melakukan kekerasan krn tidak memecahkan masalah dalam hubungan (Riggs & Caulfield, 1997). Menariknya lagi, sebagian besar dari orang tua dg penggunaan penyerangan saat pacaran ditengahi oleh penerimaan dari penyerangan saat pacaran dan ini adalah benar hanya untuk laki-laki.Dengan kata lain bahwa untuk laki-laki kkerasan yang dilakukan orang tua berhubungan dg KDP.

Kelompok yang Berpengaruh
Kelompok yang berpengaruh berhubungan dengan tingkah laku- tingkah laku yang mendukung terjadinya KDP, Ariaga dan Foshee (2004) digali saat remaja mengikuti gaya atau cara teman-temannya. Ditemukannya indikasi bahwa memiliki teman yang berprilaku kekerasan dalam berhubungan digolongkan kedalam remaja yang memiliki pengalaman pelaku dan korban dari KDP.

Faktor personal atau intrapersonal
Harga diri rendah yang ditemukan untuk mendi skriminasi antara laki-laki yang memulai perilaku kekerasan dengan mereka yang mengontrol diri untuk tidak berprilaku kekerasan tetapi pola ini tidak signifikan untuk perempuan (O’Keefe, 1997). Harga diri yang rendah juga diasosiasikan dengan korban pada perempuan dari KDP tetapi tidak untuk laki-laki (O’Keefe & Treister, 1998).

Masalah perilaku lainnya
Remaja yang menghindar dari suatu masalah perilaku biasanya disertai juga oleh masalah perilaku lainnya dan ini menimbulkan kasus KDP. Penggunaan alcohol dan obat-obatan secara terus menerus ditemukan sebagai hubungan yang kuat dengan timbulnya KDP pada kedua jenis kelamin (Burcky, Reuterman, & Kopsky,1988; O’Keeffe et al.,1986; O’Keefe,1997;Silverman, Raj, Mucci, & Hathaway, 2001).

Faktor Hubungan
Sejumlah hubungan dapat diasosiasikan dengan perlakuan dan penerimaan KDP. Masalah hubungan yang terbesar dan terbayak dari pasangan kencan berhubungan positif dengan perlakuan KDP untuk laki-laki dan perempuan (Bergman, 1992;O’Keefe, 1997). Sepertinya pertengkan atau konflik tersebut dapat mengarah kepada taraf penggunaan kekerasan diantara beberapa remaja.
KDP diantara remaja perlu diwaspadai terjadinya. Diperkirakan 1 dalam 8 sekolah menegah atas dan 1 dalam 5 sekolah tinggi akan ditemukan hubungan yang disertai dengan kekerasan.

Faktor resiko untuk pelaku
Remaja yang punya resiko menjadi pelaku KDP mempunyai riwayat sebagai berikut :
  1. Menderita kekerasan terus menerus atau perlakuan pada masa kanak-kanak yang salah.
  2. Sering melihat oarang tua melakukan perilaku kekerasan sehingga tertanam kepercayaan bahwa KDP adalah hal yang dapt diterima.
  3. Penggunaan obat-obatan dan alkohol
  4. Terpapar dengan lingkungan yang penuh dengan kekerasan

Faktor Resiko Untuk Korban.

Meski lali-laki dan perempuan menderita kekerasan fisik dari pasangannya, pada penelitian KDP pada remaja telah ditemukan kecendrungan bahwa perempuan :

  1. Lebih sering menjadi korban kekerasan seksual pada KDP
  2. Lebih sering menjadi pengalaman kekerasan seksual dari pasangannya.
  3. Lebih sering menjadi pengalaman kekerasan emosional dari pasangannya.
  4. Lebih sering menderita kesakitan dari pada laki-laki sebagai akibat dari kekerasan pasangan.


Remaja yang beresiko tinggi untuk melakukan perilaku kekerasan rata-rata cendrung untuk :

  • Mempunyai pengalaman yang lebih bermasalah dalam hubungannya.
  • Merasakan bahwa hubungannya sangat serius dan merasa sangat perlu untuk memutuskannya.
  • Kecanduan alkohol dan obat-obatan
  • Suport sistem sosial yang kurang
  • Mempunyai kelompok yang pernah menjadi korban seksual
  • Memiliki banyak mantan pacar
  • Kemungkinan pernah mengalami kekerasan seksual sebelumnya.


Cara untuk mengetahui apakah anak remaja kita mempunyai hubungan yang cendrung berprilaku kekerasan salah satunya adalah dengan mengajukan pertanyaan atau memperhatikan hal berikut ini:

  • Apakah dia pulang dengan memer atau luka yang dia tidak dapat jelaskan penyebabnya?
  • Apakah remaja anda menunjukkan ketakutan pada pasangannya.
  • Apakah remaja anda kehilangan ketertarikan dengan sesuatu yang biasanya dia senangi atau minati?
  • Apakah remaja anda untuk tingkah laku pasangannya pada orang tua atau orang lain?


Cara menolong remaja yang mengalami KDP
Ada banyak cara yang dapat dilakukan orang tua untuk pencegahan dan tindakan pada remaja yang mengalami KDP disamping membawa anak untuk konseling yaitu :

  1. Sebelum remaja anda memulai pacaran jelaskan kepada mereka tentang tingkah laku apa yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima.
  2. Diskusikan bersama remaja anda tentang beberapa tanda-tanda yang mengarah pada kekerasan.
  3. Berikan daftar-daftar sumber daya local yang mungkin dapat menolong mereka mendapatkan pertolongan untuk diri mereka sendiri dan pelaku. Termasuk di dalamnya hot line service.
  4. Ajarkan remaja anda keterampilan untuk memecahkan masalah dengan efektif dan tunjukkan cara memecahkan masalah tanpa menggunakan fisik.
  5. Pada akhirnya menolong remaja anda dengan memvalidasi apa yang dia rasakan dan memberikan perhatian dalam berkomunikasi. Anda juga dapat menolong pelaku dengan menemukan sumber-sumber dan mendorong pelaku mencari pertolongan.
  6. Jangan ijinkan pelaku untuk terus melakukan kekerasan tapi Bantu remaja untuk melihat bahwa kekerasan tidak dapat diterima sebagai cara untuk memecahkan masalah dan menunjukkan pada mereka alternatif positif untuk memecahkan masalah.









Jumat, 28 November 2008

Tentang Saya

Saya seorang perawat yang bekerja pada kekhususan perawatan jiwa